Ungkapan yang menggambarkan satu benda dua makna. Satu
positif dan lainnya negatif sungguuuh tepat untuk ‘barang’kita yang dianugerahkan Tuhan bahkan sejak minggu
awal sejak konsepsi. Pada minggu pertama setelah konsepsi manusia sudah
memiliki gonada primitif dan pada minggu ketujuh sudah diketahui laki-laki dan
perempuannya.
Dalam sebuah kegiatan sekolah ada pertanyaan salah
satu peserta dari sebuah Sekolah Menengah Atas favorit yang menayakan apakah
tidak mungkin penis kesasar ke lubang kencing.
Ini pertanyaan sederhana sebenarnya, tetapi mengapa masih ditanyakan
oleh seorang siswa kelas XI?
Pendidikan Seksualitas antara Saru (Tabu) dan Seru (Asyik)
Sudah dikatakan manusia sejak minggu pertama sudah
memiliki gonada yang akan menjadi penis dan vagina di kelak kemudian hari. Apa
artinya? Penis dan vagina oleh Sang Pencipta sudah lebih dahulu dipersiapkan. Bandingkan
dengan alat-alat yang lain seumpama tangan, kaki, dan sebagainya. Organ-organ
ini menyusul belakangan. Kita memberi nama juga alat vital yang berarti penting
bagi hidup bahkan menjadi penyalur kehidupan baru. Tetapi mengapa tidak pernah
dibicarakan dengan terus terang dan lugas, apa adanya?
Setiap kegiatan sekolah mengenai seksualitas,
peserta diminta untuk mencari padan kata penis dan vagina, ditemukan lebih dari
30 kata hanya untuk satu kata penis saja, sedang vagina relatif lebih sedikit
karena perempuan agak malu-malu untuk eksplorasi pada ranah yang masih ‘sensitif’ ini. Hal ini
menunjukkan masih sering dijumpai orang tua ataupun pendidik yang masih
menggunakan kata lain saat mengatakan penis dan vagina. Mengapa demikian banyak
padan kata untuk alat vital kita ini? Banyak jawaban yang akan diterima kalau
pertanyaan ini diajukan. Ada yang mengatakan tabu, saru, tidak selayaknya dikatakan, anak belum saatnya tahu dan
sebagainya. Jawaban ini juga akan sama
kalau ditanyakan apakah pendidikan seksualitas itu perlu atau tidak? Mereka
kebanyakkan akan menjawab tidak tahu. Jawaban ini digunakan untuk menutupi
ketidaktahuan, ketidaksiapan, atau kebingungan di kalangan sebagian besar orang
tua maupun pendidik. Anak kecil acap kali bertanya mengenai kelahiran, atau
apapun yang berkaitan dengan seksual. Orang tua lebih banyak mengalihkan
pembicaraan ataupun membentak anak. Karena tidak tahu apa yang harus dikatakan
atau apa yang harus diberikan.
Mengapa kita gamang dan bingung dengan hidup kita
sendiri. Manusia tidak akan seperti saat ini begini banyaknya, begitu indahnya
dunia, ada damaii ada perang ada mall, ada industri, ada berbagai hal karena kita
dilahirkan sebagai laki-laki dan perempuan. Coba banyangkan seandainya dunia
ini laki-laki saja atau perempuan saja mesti tidak akan ada perang tapi jenuh
dan bosan sekali. Tidak akan ada industri karena tidak ada persaingan. Seksualitas
adalah segala sesuatu yang membedakan manusia menjadi laki-laki dan perempuan. Be,ajar
mengenai diri sendiri tentulah asyik dan menyenangkan, mengapa tabu/ karena
kita tidak tahu apa-apa untuk menutupi dengan mudah mengatakan saja tabu.
Lebih lima tahun lalu Undang-Undang
Anti Pornografi dan Pornoaksi diundangkan dengan meninggalkan ganjalan di
sana-sini. Istilah pornografi dalam Kamus Bahasa Indonesia,
didefinisikan sebagai penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan
atau tulisan untuk membangkitkan hawa nafsu birahi. Undang-Undang tersebut menyebut anti
pornografi, yang dapat diartikan sebagai anti atau yang bertentangan dengan
pornografi dalam arti lain anti segala sesuatu yang membangkitkan birahi.
Birahi terjadi karena pengaruh kelenjar pituitary
yang terletak di dekat
otak manusia. Alat inilah yang mengatur
manusia ataupun hewan mengerti adanya lawan jenis. Tanpa alat ini sebenarnya
penis tidak akan ereksi, dan vagina tidak akan teranggsang. Kalau tidak ada
keterangsangan juga tidak akan ada generasi baru yang lahir karena manusia
melihat sesamanya hanya seonggok daging
saja.
Sudah saatnya anak muda dan generasi muda diajarkan
dengan gamblang, terus terang, dan apa adanya berkaitan dengan kediriannya.
Alat yang demikian penting diperhatikan dengan baik dalam hal ini ditutup
dengan semestinya, namun kadang-kadang masih belum secara obyektif dalam
memperlakukannya.