Orang tua yang memiliki anak
remaja, sering mengeluhkan tingkah polah anaknya. Sulit diatur, mau menangnya
sendiri, seenaknya sendiri, melawan, tidak mau diatur, dan banyak lagi litani
keadaan remaja. Kesimpulan yang paling sederhana yang disematkan kepada remaja
ialah nakal. Banyak sekali pembicaraan mengenai remaja, dan paling sering menjadi pembahasan yaitu
kenakalan remaja.
Anak dilahirkan putih bersih.
Semua baik adanya. Perkembangan masing-masing pribadi banyak faktor yang
mempengaruhi. Lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan keluarga merupakan faktor
eksternal yang membentuk kepribadian anak. Ada faktor dari luar tentu saja
faktor dalam mempengaruhi perkembangan anak. Faktor dalam yang dapat disebutkan
adalah apa yang dibawa anak sejak lahir baik fisik maupun psikis. Sampai saat
ini belum ada kesepakatan yang bulat pengaruh mana yang lebih besar dan dominan
berpengaruh, apakah pengaruh dari luar atau dalam yang lebih memberikan bentuk
kepada kepribadian seorang individu.
Pemahaman orang tua mengenai
psikologi perkembangan dan kepribadian memegang peran vital menghadapi gejolak
usia remaja. Orang tua sudah layak dan sepantasnya dapat mengerti apa yang
terjadi pada anak-anaknya, karena dapat dipastikan orang tua pernah menjadi
anak. Apa yang pernah dialami dapat dijadikan pembelajaran yang sangat penting.
Alangkah tidak bijaksana kalau dengan mudah melabeli anak dengan kata-kata
nakal, setiap anak mengekspresikan pencariannya.
Banyak kejadian-kejadian di luar
kendali dan prediksi otoritas dewasa, dalam hal ini, orang tua, guru atau pihak
sekolah, pimpinan masyarakat. Tawuran, pengeroyokan, perusakan, memalak, kelompok motor, mabuk-mabukan,
merokok, dan masih banyak lagi. Mengapa hal ini terjadi? Anak yang memasuki
usia remaja banyak mengalami perubahan yang sangat tidak mengenakan. Mulai
dituntut untuk bertanggung jawab, memiliki tugas yang makin menyita waktu
bermainnya. Secara fisik juga ada
perubahan hormonal yang sangat mengagetkan, perubahan anggota tubuh, perubahan
orientasi dalam menghadapi rekan dan lawan jenis. Anak remaja atau bahasa
gaulnya ABG sebenarnya pengin
dimengerti, pengin banyak bertanya, rindu masa kecilnya yang bebas, sekaligus
takut dan khawatir akan hari esok yang belum tahu seperti apa. Mengapa ada
perubahan-perubahan pada fisik, hormon, dan dalam sosialitasnya. Kegalauan dan
kegamangannya dengan mudah dan sederhana dilabeli dengan nakal. Karena anak
dengan mudah ketika kegamangannya yang tidak direaksi dan mendapatkan solusi semestinya
menyalurkannya dalam bentuk-bentuk yang bagi otoritas dewasa dianggap sebagai
nakal, dan tidak mudah diatur.
Apa yang seharusnya diberikan
oleh yang pernah menjadi remaja. Keteladanan, kesiapan mendengarkan, bukan
sebagai hakim yang menyalahkan dan menghakimi serta mengatur sesuai dengan
pemikiran dewasa mereka. Keteladanan berati sosok yang dapat dijadikan panutan,
menjadi pola, dapat menjadi contoh ideal bahwa ketika memasuki usia dewasa aku
akan seperti itu. Mau tidak mau sekarang ini bangsa ini sedang krisis
keteladanan. Orang tua banyak yang sebenarnya belum siap menjadi panutan,
pembimbing, sekaligus pendidik anak. Ortoritas lain dalam bermasyarakat dan
bernegara dengan penuh penyesalan lebih banyak pewartaan buruk dari pada baik
bagi remaja.
Kesiapan mendengarkan, memberikan
diri untuk mengerti kaum remaja, berbicara dari hati ke hati. Kesempatan itu
tercerabut oleh kemajuan teknologi yang dianggap modern, namun tidak dengan
presisi menggantikan peran orang tua. Bahkan dalam keadaan ekstrem malah
mengasingkan satu sama lain. Say hello dianggap
cukup dan mewakili kehadiran. Pelukan dan penerimaan hilang, apalagi
mendengarkan. Mendengar mungkin masih banyak, karena dengan alat komunikasi
dapat mendengar, namun mendengarkan sama sekali tidak dapat.
Menerima dengan hati dan budi
yang terbuka, seperti burung yang mengepakkan sayap dan anak-anaknya dapat
meringkuk hangat di bawah hangatnya ketiak induknya, itu kerinduan terbesar
kaum remaja. Datang, didengarkan, diskusi, dan memperoleh solusi terbaik atas
apa yang sedang dialami. Pengetahuan dan pengalaman orang tua memegang peran
besar, keterbukaan dan kesiapan anak juga tidak kalah pentingnya. Peran
terpenting adalah doa, sebelum berbicara anak dan orang tua berdoa untuk mohon
penerangan Tuhan agar dapat berbicara dari hati ke hati. Pembicaraan untuk
perkembangan lebih baik dan pertumbuhan menuju kedewasaan anak remaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar