Jumat, 02 Mei 2014

Kenakalan Remaja atau Ekspresi Pencarian Jati Diri?


Orang tua yang memiliki anak remaja, sering mengeluhkan tingkah polah anaknya. Sulit diatur, mau menangnya sendiri, seenaknya sendiri, melawan, tidak mau diatur, dan banyak lagi litani keadaan remaja. Kesimpulan yang paling sederhana yang disematkan kepada remaja ialah nakal. Banyak sekali pembicaraan mengenai remaja,  dan paling sering menjadi pembahasan yaitu kenakalan remaja.
Anak dilahirkan putih bersih. Semua baik adanya. Perkembangan masing-masing pribadi banyak faktor yang mempengaruhi. Lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan keluarga merupakan faktor eksternal yang membentuk kepribadian anak. Ada faktor dari luar tentu saja faktor dalam mempengaruhi perkembangan anak. Faktor dalam yang dapat disebutkan adalah apa yang dibawa anak sejak lahir baik fisik maupun psikis. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat pengaruh mana yang lebih besar dan dominan berpengaruh, apakah pengaruh dari luar atau dalam yang lebih memberikan bentuk kepada kepribadian seorang individu.
Pemahaman orang tua mengenai psikologi perkembangan dan kepribadian memegang peran vital menghadapi gejolak usia remaja. Orang tua sudah layak dan sepantasnya dapat mengerti apa yang terjadi pada anak-anaknya, karena dapat dipastikan orang tua pernah menjadi anak. Apa yang pernah dialami dapat dijadikan pembelajaran yang sangat penting. Alangkah tidak bijaksana kalau dengan mudah melabeli anak dengan kata-kata nakal, setiap anak mengekspresikan pencariannya.
Banyak kejadian-kejadian di luar kendali dan prediksi otoritas dewasa, dalam hal ini, orang tua, guru atau pihak sekolah, pimpinan masyarakat. Tawuran, pengeroyokan, perusakan, memalak, kelompok motor, mabuk-mabukan, merokok, dan masih banyak lagi. Mengapa hal ini terjadi? Anak yang memasuki usia remaja banyak mengalami perubahan yang sangat tidak mengenakan. Mulai dituntut untuk bertanggung jawab, memiliki tugas yang makin menyita waktu bermainnya.  Secara fisik juga ada perubahan hormonal yang sangat mengagetkan, perubahan anggota tubuh, perubahan orientasi dalam menghadapi rekan dan lawan jenis. Anak remaja atau bahasa gaulnya ABG sebenarnya pengin dimengerti, pengin banyak bertanya, rindu masa kecilnya yang bebas, sekaligus takut dan khawatir akan hari esok yang belum tahu seperti apa. Mengapa ada perubahan-perubahan pada fisik, hormon, dan dalam sosialitasnya. Kegalauan dan kegamangannya dengan mudah dan sederhana dilabeli dengan nakal. Karena anak dengan mudah ketika kegamangannya yang tidak direaksi dan mendapatkan solusi semestinya menyalurkannya dalam bentuk-bentuk yang bagi otoritas dewasa dianggap sebagai nakal, dan tidak mudah diatur.
Apa yang seharusnya diberikan oleh yang pernah menjadi remaja. Keteladanan, kesiapan mendengarkan, bukan sebagai hakim yang menyalahkan dan menghakimi serta mengatur sesuai dengan pemikiran dewasa mereka. Keteladanan berati sosok yang dapat dijadikan panutan, menjadi pola, dapat menjadi contoh ideal bahwa ketika memasuki usia dewasa aku akan seperti itu. Mau tidak mau sekarang ini bangsa ini sedang krisis keteladanan. Orang tua banyak yang sebenarnya belum siap menjadi panutan, pembimbing, sekaligus pendidik anak. Ortoritas lain dalam bermasyarakat dan bernegara dengan penuh penyesalan lebih banyak pewartaan buruk dari pada baik bagi remaja.
Kesiapan mendengarkan, memberikan diri untuk mengerti kaum remaja, berbicara dari hati ke hati. Kesempatan itu tercerabut oleh kemajuan teknologi yang dianggap modern, namun tidak dengan presisi menggantikan peran orang tua. Bahkan dalam keadaan ekstrem malah mengasingkan satu sama lain. Say hello dianggap cukup dan mewakili kehadiran. Pelukan dan penerimaan hilang, apalagi mendengarkan. Mendengar mungkin masih banyak, karena dengan alat komunikasi dapat mendengar, namun mendengarkan sama sekali tidak dapat.

Menerima dengan hati dan budi yang terbuka, seperti burung yang mengepakkan sayap dan anak-anaknya dapat meringkuk hangat di bawah hangatnya ketiak induknya, itu kerinduan terbesar kaum remaja. Datang, didengarkan, diskusi, dan memperoleh solusi terbaik atas apa yang sedang dialami. Pengetahuan dan pengalaman orang tua memegang peran besar, keterbukaan dan kesiapan anak juga tidak kalah pentingnya. Peran terpenting adalah doa, sebelum berbicara anak dan orang tua berdoa untuk mohon penerangan Tuhan agar dapat berbicara dari hati ke hati. Pembicaraan untuk perkembangan lebih baik dan pertumbuhan menuju kedewasaan anak remaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar