Jumat, 02 Mei 2014

ALAT VITALKU SAYANG ALAT VITALKU MALANG


Ungkapan yang menggambarkan satu benda dua makna. Satu positif dan lainnya negatif sungguuuh tepat untuk barangkita yang dianugerahkan Tuhan bahkan sejak minggu awal sejak konsepsi. Pada minggu pertama setelah konsepsi manusia sudah memiliki gonada primitif dan pada minggu ketujuh sudah diketahui laki-laki dan perempuannya.
Dalam sebuah kegiatan sekolah ada pertanyaan salah satu peserta dari sebuah Sekolah Menengah Atas favorit yang menayakan apakah tidak mungkin penis kesasar ke lubang kencing.  Ini pertanyaan sederhana sebenarnya, tetapi mengapa masih ditanyakan oleh seorang siswa kelas XI?
Pendidikan Seksualitas antara Saru  (Tabu)  dan Seru (Asyik)
Sudah dikatakan manusia sejak minggu pertama sudah memiliki gonada yang akan menjadi penis dan vagina di kelak kemudian hari. Apa artinya? Penis dan vagina oleh Sang Pencipta sudah lebih dahulu dipersiapkan. Bandingkan dengan alat-alat yang lain seumpama tangan, kaki, dan sebagainya. Organ-organ ini menyusul belakangan. Kita memberi nama juga alat vital yang berarti penting bagi hidup bahkan menjadi penyalur kehidupan baru. Tetapi mengapa tidak pernah dibicarakan dengan terus terang dan lugas, apa adanya?
Setiap kegiatan sekolah mengenai seksualitas, peserta diminta untuk mencari padan kata penis dan vagina, ditemukan lebih dari 30 kata hanya untuk satu kata penis saja, sedang vagina relatif lebih sedikit karena perempuan agak malu-malu untuk eksplorasi pada ranah yang masih sensitif ini. Hal ini menunjukkan masih sering dijumpai orang tua ataupun pendidik yang masih menggunakan kata lain saat mengatakan penis dan vagina. Mengapa demikian banyak padan kata untuk alat vital kita ini? Banyak jawaban yang akan diterima kalau pertanyaan ini diajukan. Ada yang mengatakan tabu, saru, tidak selayaknya dikatakan, anak belum saatnya tahu dan sebagainya.  Jawaban ini juga akan sama kalau ditanyakan apakah pendidikan seksualitas itu perlu atau tidak? Mereka kebanyakkan akan menjawab tidak tahu. Jawaban ini digunakan untuk menutupi ketidaktahuan, ketidaksiapan, atau kebingungan di kalangan sebagian besar orang tua maupun pendidik. Anak kecil acap kali bertanya mengenai kelahiran, atau apapun yang berkaitan dengan seksual. Orang tua lebih banyak mengalihkan pembicaraan ataupun membentak anak. Karena tidak tahu apa yang harus dikatakan atau apa yang harus diberikan.
Mengapa kita gamang dan bingung dengan hidup kita sendiri. Manusia tidak akan seperti saat ini begini banyaknya, begitu indahnya dunia, ada damaii ada perang ada mall,  ada industri, ada berbagai hal karena kita dilahirkan sebagai laki-laki dan perempuan. Coba banyangkan seandainya dunia ini laki-laki saja atau perempuan saja mesti tidak akan ada perang tapi jenuh dan bosan sekali. Tidak akan ada industri karena tidak ada persaingan. Seksualitas adalah segala sesuatu yang membedakan manusia menjadi laki-laki dan perempuan. Be,ajar mengenai diri sendiri tentulah asyik dan menyenangkan, mengapa tabu/ karena kita tidak tahu apa-apa untuk menutupi dengan mudah mengatakan saja tabu.


Lebih lima tahun lalu Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi diundangkan dengan meninggalkan ganjalan di sana-sini. Istilah pornografi dalam Kamus Bahasa Indonesia, didefinisikan sebagai penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan hawa nafsu birahi.  Undang-Undang tersebut menyebut anti pornografi, yang dapat diartikan sebagai anti atau yang bertentangan dengan pornografi dalam arti lain anti segala sesuatu yang membangkitkan birahi.
Birahi terjadi karena pengaruh kelenjar pituitary  yang terletak di dekat otak manusia.  Alat inilah yang mengatur manusia ataupun hewan mengerti adanya lawan jenis. Tanpa alat ini sebenarnya penis tidak akan ereksi, dan vagina tidak akan teranggsang. Kalau tidak ada keterangsangan juga tidak akan ada generasi baru yang lahir karena manusia melihat  sesamanya hanya seonggok daging saja.
Sudah saatnya anak muda dan generasi muda diajarkan dengan gamblang, terus terang, dan apa adanya berkaitan dengan kediriannya. Alat yang demikian penting diperhatikan dengan baik dalam hal ini ditutup dengan semestinya, namun kadang-kadang masih belum secara obyektif dalam memperlakukannya.



Kenakalan Remaja atau Ekspresi Pencarian Jati Diri?


Orang tua yang memiliki anak remaja, sering mengeluhkan tingkah polah anaknya. Sulit diatur, mau menangnya sendiri, seenaknya sendiri, melawan, tidak mau diatur, dan banyak lagi litani keadaan remaja. Kesimpulan yang paling sederhana yang disematkan kepada remaja ialah nakal. Banyak sekali pembicaraan mengenai remaja,  dan paling sering menjadi pembahasan yaitu kenakalan remaja.
Anak dilahirkan putih bersih. Semua baik adanya. Perkembangan masing-masing pribadi banyak faktor yang mempengaruhi. Lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan keluarga merupakan faktor eksternal yang membentuk kepribadian anak. Ada faktor dari luar tentu saja faktor dalam mempengaruhi perkembangan anak. Faktor dalam yang dapat disebutkan adalah apa yang dibawa anak sejak lahir baik fisik maupun psikis. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat pengaruh mana yang lebih besar dan dominan berpengaruh, apakah pengaruh dari luar atau dalam yang lebih memberikan bentuk kepada kepribadian seorang individu.
Pemahaman orang tua mengenai psikologi perkembangan dan kepribadian memegang peran vital menghadapi gejolak usia remaja. Orang tua sudah layak dan sepantasnya dapat mengerti apa yang terjadi pada anak-anaknya, karena dapat dipastikan orang tua pernah menjadi anak. Apa yang pernah dialami dapat dijadikan pembelajaran yang sangat penting. Alangkah tidak bijaksana kalau dengan mudah melabeli anak dengan kata-kata nakal, setiap anak mengekspresikan pencariannya.
Banyak kejadian-kejadian di luar kendali dan prediksi otoritas dewasa, dalam hal ini, orang tua, guru atau pihak sekolah, pimpinan masyarakat. Tawuran, pengeroyokan, perusakan, memalak, kelompok motor, mabuk-mabukan, merokok, dan masih banyak lagi. Mengapa hal ini terjadi? Anak yang memasuki usia remaja banyak mengalami perubahan yang sangat tidak mengenakan. Mulai dituntut untuk bertanggung jawab, memiliki tugas yang makin menyita waktu bermainnya.  Secara fisik juga ada perubahan hormonal yang sangat mengagetkan, perubahan anggota tubuh, perubahan orientasi dalam menghadapi rekan dan lawan jenis. Anak remaja atau bahasa gaulnya ABG sebenarnya pengin dimengerti, pengin banyak bertanya, rindu masa kecilnya yang bebas, sekaligus takut dan khawatir akan hari esok yang belum tahu seperti apa. Mengapa ada perubahan-perubahan pada fisik, hormon, dan dalam sosialitasnya. Kegalauan dan kegamangannya dengan mudah dan sederhana dilabeli dengan nakal. Karena anak dengan mudah ketika kegamangannya yang tidak direaksi dan mendapatkan solusi semestinya menyalurkannya dalam bentuk-bentuk yang bagi otoritas dewasa dianggap sebagai nakal, dan tidak mudah diatur.
Apa yang seharusnya diberikan oleh yang pernah menjadi remaja. Keteladanan, kesiapan mendengarkan, bukan sebagai hakim yang menyalahkan dan menghakimi serta mengatur sesuai dengan pemikiran dewasa mereka. Keteladanan berati sosok yang dapat dijadikan panutan, menjadi pola, dapat menjadi contoh ideal bahwa ketika memasuki usia dewasa aku akan seperti itu. Mau tidak mau sekarang ini bangsa ini sedang krisis keteladanan. Orang tua banyak yang sebenarnya belum siap menjadi panutan, pembimbing, sekaligus pendidik anak. Ortoritas lain dalam bermasyarakat dan bernegara dengan penuh penyesalan lebih banyak pewartaan buruk dari pada baik bagi remaja.
Kesiapan mendengarkan, memberikan diri untuk mengerti kaum remaja, berbicara dari hati ke hati. Kesempatan itu tercerabut oleh kemajuan teknologi yang dianggap modern, namun tidak dengan presisi menggantikan peran orang tua. Bahkan dalam keadaan ekstrem malah mengasingkan satu sama lain. Say hello dianggap cukup dan mewakili kehadiran. Pelukan dan penerimaan hilang, apalagi mendengarkan. Mendengar mungkin masih banyak, karena dengan alat komunikasi dapat mendengar, namun mendengarkan sama sekali tidak dapat.

Menerima dengan hati dan budi yang terbuka, seperti burung yang mengepakkan sayap dan anak-anaknya dapat meringkuk hangat di bawah hangatnya ketiak induknya, itu kerinduan terbesar kaum remaja. Datang, didengarkan, diskusi, dan memperoleh solusi terbaik atas apa yang sedang dialami. Pengetahuan dan pengalaman orang tua memegang peran besar, keterbukaan dan kesiapan anak juga tidak kalah pentingnya. Peran terpenting adalah doa, sebelum berbicara anak dan orang tua berdoa untuk mohon penerangan Tuhan agar dapat berbicara dari hati ke hati. Pembicaraan untuk perkembangan lebih baik dan pertumbuhan menuju kedewasaan anak remaja.